Minggu, 22 Februari 2009
Artis Qonat Hafidz
Artis Qonat Hafiz


Ada sebuah ungkapan mengatakan”pikirkan maka sesuatu itu akan menjadi kenyataan”.
Tapi terkadang sesuatu datang tanpa kita pikirkan bahkan tak terbayang dibenak sedikitpun. Disinilah kelemahan akal untuk mencerna. Jika tuhan berkehendak akan sesuatu tak ada yang mustahil dan susah. Sebuah pengalaman yang sangat menarik.

Siang itu matahari cukup terik tetapi tidak sepanas hari-hari sebelumnya. Menjelang akhir musim panas ini keadaan cuaca Kairo memang agak bersahabat. Ramadhan tahun ini tiba saat penghujung musim menjelang peralihan dari musim panas ke semi. Beberapa orang dengan beraneka busana terlihat keluar meninggalkan masjid Saqor Qurays sehabis menunaikan shalat jumat.

Tak lama berselang,seorang pemuda mesir berperawakan tinggi besar datang menghampiri KMNTB yang terletak tidak jauh dari masjid Saqor Qurays. Ia memperkenalkan diri sebagai salah seorang pengurus yayasan hafidz yang sedang mencari orang-orang asing yang bermukim di Kairo untuk menjadi tamu dalam acara buka bersama di “Sittah Oktober”. Sebuah tempat yang ditempuh sekitar satu jam perjalanan dari jantung kota Kairo. Ia sedikit menjelaskan bahwa acaranya hanya sebatas temu akrab bersama beberapa Syeik guna mengetahui perkembangan islam di Indonesia kemudian dilanjutkan dengan Buka Bersama. Pemuda Mesir tadi menambahkan bahwa Ia hanya membutuhkan empat atau lima orang Indonesia saja dan ada fasilitas antar-jemput. Jadi tidak perlu khawatir imbuhnya.

Tanpa pikir panjang akupun menyetujui tawaran pemuda Mesir tadi. Ia menegaskan bahwa satu jam lagi kalian akan di jemput sebuah mobil yang akan parkir tepat di depan pintu masuk KMNTB. Sebelum beranjak keluar pemuda mesir tadi meminta nomer Handphoneku yang dari tadi menjadi teman bicaranya. Satu jam lagi jika aku telpon kamu berarti jemputan sudah siap. Ujarnya mengakhiri pembicaraan dan kemudian mengucapkan salam.

Tepat seperti apa yang dijanjikan, jam 14:30 sebuah mobil El-Tramco yang masih tampak kelihatan baru sudah terparkir di depan pintu masuk imarah KMNTB. Pemuda Mesir tadi bersama Seorang paruh baya keluar dari mobil sembari menebarkan senyuman hangat “Assalamualaikum”, Ucapnya. Kalian sudah siap? ada berapa orang? Ia bertanya dengan ramah dan agak sedikit senyum. Insyallah empat orang jawabku yang menjadi teman bicaranya satu jam yang lalu. Boleh kami tau nama-namanya?tanyanya kembali. Lantas Aku menyebutkan: Hizbi Khoir,Hidayatullah Ahmad,Ust.Mohammad Taisir Azhar,dan Sukarnawadi. Lalu spontan Ia mengatakan “Kalau sudah siap mari kita jalan”.

Kami berjalan dengan tanda Tanya besar. Di mana?dan apa acara yang akan kami hadiri? Menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Karena ini tidak seperti biasanya. Lumrahnya para masisir berjalan sendiri menuju tempat acara tanpa ada jemputan. Lebih-lebih kami diharuskan menggunakan pakaian rapi dan sepatu. Di dalam mobil yang kami tumpangi juga ada empat rekan dari ubzekistan. Dua anak kecil dan duanya lagi orang dewasa. Mereka berpenampilan rapi dengan balutan kulit putih khas ras Russia. Saat kami Tanya tentang acara yang akan dihadiri, mereka menjawab dengan perkataan yang sama. Hanya buka bersama. Ucapnya.

El-Tramco putih yang kami tumpangi saat ini sedang melaju tepat diatas jembatan sungai nil yang biasa dilewati Mahasiswa Indonesia jika ingin ke KBRI. Sopir mesir ini sangat ugal-ugalan. Ia menyetir mobil dengan kecepatan tinggi walau di tengah keramaian. Mengharuskan para penumpang berdzikir kencang ke kiri dan ke kanan bahkan sesekali harus sedikit berjingkrak. Seperti ada yang di kejar. Padahal jam masih menunjukkan pukul 15:30. waktu tenggang untuk buka puasa masih cukup panjang. Tak sampai berselang 10 menit mobil kami sudah berada di luar kota Kairo. Saat ini yang tampak disebelah kanan dan kiri bukan lagi bangunan-bangunan megah tinggi. Tetapi pepohonan dan tanaman hijau.

Sangat terkejut, setelah beberapa saat mengitari jalan terlihat sebuah bangunan besar bertingkat. pada pintu masuk berdiri beberapa orang penjaga. Melihat corak seperti station tv dan Radio spontan Hizbi ketua KMNTB berkata: sepertinya kita akan di wawancarai masuk Station Radio. Ya mungkin aja jawabku sembari tersenyum. Jadi kita harus siap-siap dong?, imbuhnya. Ya sebisanya aja jawabku kembali. Kami tetap masih penasaran.

Mobil kami memasuki gedung megah setelah sopir berbicara sesaat dengan penjaga tadi seraya melambaikan tangan diiringi senyuman khas Mesir. Rasa penasanku dan kawan-kawan sedikit terjawab setelah melihat sebuah tulisan besar” NILE FM”. Lebih-lebih setelah mobil yang kami tumpangi berhenti dan parkir tepat di depan “qonat Al-Hafiz” salah satu channel station TV mesir yang biasa menyiarkan acara-acara diskusi agama. Hatiku semakin yakin kalau undangan ini bukan hanya sebatas menghadiri jamuan buka bersama. Tetapi lebih dari itu. Ini tidak seperti biasanya.

Silahkan kalian semua shalat Ashar dahulu dan bersiap-siap untuk menjadi tamu kami sore ini. Ungkap seorang berpakaian rapi menyambutkan kami. Aku terbelalak dan bertanya : tamu? Maksud anda?. Ya kalian akan menjadi wakil Indonesia dalam acara Ramadan menjelang berbuka puasa. Kalian akan diminta untuk memperkenalkan beberapa budaya Indonesia yang berkenaan dengan Bulan suci Ramadhan. Kalian akan masuk TV bersama beberapa Doktor yang akan menjadi presentator kita sore ini. Dan akan disiaran LIVE melalui “Qonat Hafiz”. Ujarnya. Kami saling pandang satu sama lain. Seakan-akan tidak percaya akan hal ini. Mimpi apa aku semalam sampai bisa masuk TV? Cetusku dalam hati. Seumur hidupku baru kali ini aku melihat langsung proses syuting TV. Apalagi sekaligus menjadi tamu resmi acara ini.

Perempuan muda mesir menghampiri kami yang baru saja selesai menunaikan shalat Ashar. Ia memegang secarik kertas mini bertuliskan “Qonat Hafiz”. Dengan ramah Ia bertanya: boleh aku tau nama kalian? Kalian dari Indonesia kan? Ya jawab kami serentak. Dalam acara TV nanti, masing-masing kalian harus memiliki peran. Ada beberapa peran yang kami tawaran. Di mana setiap kalian harus memilih salah satunya. Diantaranya: peran sebagai muazzin, sebagai pembaca Al-Quran, pembicara memperkenalkan sedikit budaya warga Indonesia saat ramadhan, dan terakhir kalau bisa kalian menyanyikan sebuah nasyid berbahasa Indonesia yang berkenaan dengan ramadhan atau kalau terpaksa tidak ada yang hafal bisa pakai bahasa inggris atau arab. Imbuhnya.

Ruangan itu cukup besar. Berukuran sekitar 6 m kali 6 m. berlantai licin sejenis kaca. Tepat di tengah bagian utara tersusun sepasang meja terbuat dari marmer beserta beberapa kursi. Dan masing-masing di depan sebelah kiri dan kanan berjajar dua kursi yang menjadi tempat duduk kami berempat. Jika dilihat dari depan persis berbentuk seperti setengah lingkaran.

Pintu tertutup rapat. Di dalam ruangan hanya ada kami berempat dan empat doktor yang duduk menghadap alat syuting. Ada dua karyawan yang berdiri di hadapan kami mengarahan kameranya agar tepat sasaran. Acara dimulai dengan dipandu seorang moderator yang sering muncul di layat TV. Diawali dengan pembacaan ayat Al-quran oleh saudara Hizbi Kahoir dan kemudian moderator membuka dialog dengan doktor tentang penyebaran Islam di Dunia. Hingga adzan magrib dikumandangkan,saudara Sukarnawadi mengambil bagian sebagai Muazzin. Ternyata ia memiliki suara emas. Suaranya begitu halus dan merdu. Sejenak acara dihentikan memberi kesempatan untuk berbuka puasa.

Begitu seterusnya hingga Ust.Taisir Azhar Lc diberi kesempatan oleh pemandu acara untuk menggambarkan budaya Indonesia saat ramadhan. Dipenghujung acara, moderator meminta untuk menampilkan nasyid islami. Kali ini adalah giliranku untuk beraksi. Aku melantunkan sebuah nasyid berbahasa inggris dengan judul: “Thank’s Allah”. Tepat setelah bait terkahir terucap “Thank’s Allah” moderator menutup acara.

“Thank’s Allah” atas semua karunia yang telah di berikan kepada hamba-Nya. “Thank’s Allah” telah menciptakan manusia dalam kesempurnaan. “Thank’s Allah” kata kami akhiri acara sore itu.





HIdayatullah Ahmad Jazri
Nama pena : Raudah Hayati.
posted by Hidayatullah Ahmad Jazri @ 22.17  
DAKWAH ALA SANTRI

Previous Post
Archives
SHOUT BOX